Tuesday, June 19, 2007

Forum BioDiesel 26 - 28 Juni 2007




Pertumbuhan Industri Oleochemical ASEAN

Perhatian dunia tertuju pada komoditas kelapa sawit yang saat ini sedang berkembang di Asia, tidak terkecuali di Indonesia yang notabene merupakan penghasil minyak sawit terbesar kedua sesudah Malaysia.

Dengan produksi sebesar 16 juta ton per tahun pada 2006, Indonesia memastikan diri untuk menjadi yang terbaik di Industri Kelapa Sawit di masa depan. Industri kelapa sawit yang berkembang di Indonesia, sampai saat ini memang masih di dominasi industri hulu, akan tetapi pemerintah mulai melihat industri ini untuk berkembang di sektor industri hilir, yang tidak lain adalah industri oleochemical dan industri biodiesel berbahan baku sawit.

Pemerintah yang direpresentasikan Wakil Presiden Republik Indonesia, Yusuf Kalla beberapa waktu lalu, menginstruksikan kepada beberapa menteri terkait untuk mendorong industri hilir khususnya kelapa sawit menjadi lebih maju lagi. Pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan untuk mengembangkan industri hilir kelapa sawit yang saat ini dinilai Wapres masih kurang memiliki nilai tambah. Kebijakan Pemerintah merupakan langkah awal untuk menjadikan industri sawit agar memiliki nilai tambah bagi tanah air.

Memang sawit merupakan industri yang tidak hanya berkembang di tanah air namun sudah merupakan komoditas internasional sehingga mengakibatkan harga yang mengacu kepada harga internasional. Akan tetapi harga komoditas ini harus menjadi acuan bagi pengembangan selanjutnya khususnya industri hilir di tanah air, karena bukan tidak mustahil industri akan mampu menghasilkan produk, tetapi tidak dapat menjualnya akibat harga produksi yang terus meningkat.

Pertemuan ASEAN Oleochemical Manufacturers Group (AOMG) pada 14 Maret 2007, di Malaysia mungkin bisa menggambarkan pertumbuhan industri ini di ASEAN secara lebih komprehensif. AOMG beranggotakan industri yang berasal dari negara-negara ASEAN, seperti Indonesia, Malaysia, Philipina dan Thailand.

Saat ini industri oleochemical masih di dominasi negara Malaysia dengan memiliki 17 industri, Indonesia 6 industri, Philipina 7 industri dan Thailand 1 industri. Pertumbuhan Kapasitas terpasang industri oleochemical ASEAN dapat dilihat pada tabel 1.

Tabel 1. Pertumbuhan Kapasitas terpasang Industri Oleochemical ASEAN.*

Metric Ton Per Annum
Tahun Fatty Acid Methyl Esters Fatty Alcohols Refined Glycerine
2006 2,167,950 718,140 530,255 302,323
2005 1,782,989 669,000 491,905 259,218
2004 1,631,312 634,896 474,926 211,199
2003 1,588,027 589,896 434,590 199,575
2002 1,483,393 564,000 408,111 190,540
*Note : Malaysia 12 industri oleochemical.

Sumber : AOMG

Pertumbuhan industri oleochemical pada 2002 untuk produk fatty acid sebesar 1,483,393 telah mengalami peningkatan sekitar 46,2% menjadi 2,167,950 pada 2006. Dengan pertumbuhan dari 2002 ke 2003 sebesar 7,1% menjadi sebesar 21,6% dari 2005 ke 2006. Membuat industri oleochemical semakin menarik di mata investor dunia.




Pertumbuhan industri oleochemical yang tinggi ini, masih di dominasi industri oleochemical Malaysia dengan komposisi sebagai berikut :

Metric Ton Per Annum
Product Kapasitas terpasang
Fatty Acid 1,748,000
Methyl Esters 498,000
Fatty Alcohols 337,000
Refined Glycerine 237,450

Sumber : AOMG

Indonesia merupakan negara terbesar kedua sesudah Malaysia dengan total produksi oleochemical sebagai berikut :

Metric Ton Per Annum
Fatty Acid 522,000
Methyl Esters 105,140
Fatty Alcohols 115,000
Refined Glycerine 78,780

Sumber : AOMG

Pertumbuhan Industri oleochemical di ASEAN memberi indikasi nyata betapa produk yang dihasilkan industri ini sangat dibutuhkan dunia. Bahkan pertumbuhan yang terjadi tidak hanya di empat negara ASEAN tersebut, akan tetapi mulai tumbuh di China dan India.

Ke depan, AOMG akan melakukan pendekatan terhadap industri oleochemical di China dan India, agar ikut bergabung di dalam Asosiasi ini supaya dapat merapatkan barisan sebagai bagian dari industri oleochemical di ASEAN. Semoga (IK)

Monday, June 18, 2007

Kelapa Sawit Indonesia : Masa Depan Cerah

Prospek industri sawit di negeri sudah berkembang sangat pesat, hal ini terbukti dengan semakin berkembangnya industri ini dari hulu ke hilir dan menjadi primadona ekspor dari sektor non migas. Di samping memberikan profitabilitas yang tinggi dan berkesinambungan bagi para pelaku bisnis, industri ini secara nyata juga ikut meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia bahkan dunia.

Saat ini dengan total produksi mencapai sekitar 16 juta ton pertahun di 2006, minyak sawit mengalami pertumbuhan yang cukup significant dari 14,7 juta ton pada 2005 dan 13,6 juta ton di 2004. Peningkatan produksi minyak sawit ini di masa mendatang akan terus berlanjut, sejalan dengan dukungan teknologi dan implementasinya, yang di dorong oleh kebutuhan konsumsi yang semakin meningkat.

Gejala tersebut membuat masa depan industri kelapa sawit secara umum akan semakin cerah. Ini dapat ditunjukan dengan beberapa indikator utama yang menunjukkan kenaikan, seperti luas lahan, angka produksi, ekspor serta penyerapan tenaga kerja. Hal tersebut membuat minyak sawit akan men-substitusi jenis minyak nabati lain, terutama edible oil seperti minyak kedelai, bunga matahari dan biji lobak. Peningkatan peluang minyak sawit juga di dukung oleh harga minyak sawit yang relatif lebih rendah apabila dibandingkan dengan jenis minyak nabati lainnya.

Pertumbuhan yang besar ini tidak hanya terjadi di Indonesia semata, melainkan juga terjadi di negara lainnya yang memproduksi minyak sawit. Berdasarkan data oil world Annual 2006, produksi minyak sawit dunia mengalami kenaikan sebesar 7,7% menjadi 37,6 juta ton di bandingkan 35,2 juta ton pada 2005. Ini merupakan kenaikan terbesar dibandingkan minyak nabati lainnya seperti minyak kedelai yang mengalami kenaikan sebesar 5,7% menjadi 36,6 juta ton di 2006 dari 34,8 di tahun sebelumnya.

Tabel 1, berisi detail produksi oils & fats sejak 2003/04, serta prediksi untuk tahun berikutnya. Peningkatan yang terjadi beberapa tahun ini, diatas rata-rata peningkatan selama kurun waktu 20 tahun kebelakang. Dapat dilihat pada tabel, terjadi kenaikan sebesar 17% (22.6 MT) dalam kurun waktu 3 tahun (termasuk prediksi tahun 2006/07). Hampir seluruh kenaikan ini akibat dari bertambahnya suplai soybean, palm (termasuk palm kernel), serta rapeseed oil, yang jumlah total kenaikan dari tiga oil ini mencapai 18.6 MT. Kenaikan sebagian produk lain, cukup menarik untuk dicatat bahwa butter, lard, dan tallow turut menyumbang kenaikan sebanyak 1.6 MT.

Peningkatan ini semakin memperkuat minyak sawit sebagai primadona minyak nabati di dunia mengalahkan minyak nabati lainnya. Dengan pasar utama CPO Indonesia masih di dominasi China dan India yang mengkonsumsi lebih dari 60% dari total ekspor setiap tahun. Kini Indonesia bersama negara tetangga Malaysia, telah menguasai lebih dari 85% produksi CPO dunia, dan bukan suatu hal yang mustahil apabila Indonesia akan berhasil mengungguli Malaysia menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia.

Meskipun demikian, industri sawit masih menghadapi berbagai tantangan. Di antaranya adalah fluktuasi harga CPO, produktifitas yang masih rendah, konflik sosial dan isu lingkungan. Tuntutan terhadap pembangunan industri sawit yang berwawasan lingkungan akhir-akhir ini juga gencar disuarakan oleh Lembaga Swadaya Masyarakat.

Pada tingkat perusahaan, tantangan lain yang dihadapi adalah ancaman kegagalan usaha agribisnis kelapa sawit, penyebabnya antara lain penggunaan bibit palsu, penerapan kultur teknis yang tidak tepat, kesalahan dalam interpretasi kelas kesesuaian lahan dan lainnya. Sementara faktor sosial yang menjadi masalah dalam usaha agribisnis kelapa sawit adalah ketidak harmonisan hubungan antara pekebun, masyarakat sekitar dan instansi terkait sehingga menimbulkan masalah seperti penjarahan produk, okupasi lahan, masalah ketersediaan lahan dan perijinan.

Pertumbuhan pasar domestik pengguna CPO yang masih berkisar 4.5 Juta ton per tahun, membuka peluang untuk menggunakan produk ini sebagai bahan baku yang akan menghasilkan produk yang berkualitas. Oleh karena itulah industri hilir sawit menjadi pekerjaan rumah yang harus dikerjakan.

Pertumbuhan dan tantangan industri ini merupakan tanggung jawab bersama, tidak hanya sektor swasta akan tetapi juga pemerintah beserta jajarannya untuk merapatkan barisan dan menata industri ini ke depan menjadi lebih baik.

Tantangan yang disebut diatas harus dijawab dengan melakukan beberapa langkah strategis sekaligus dalam upaya menjamin kesinambungan usaha agribisnis kelapa sawit di Indonesia. Di antaranya dengan menggalang dukungan dari lembaga penelitian serta penggalian informasi untuk memperkokoh sektor hulu dan hilir kelapa sawit. Penanganan masalah-masalah sosial juga perlu dilakukan dengan menyelaraskan paradigma seluruh stake holder dalam membangun industri kelapa sawit untuk kepentingan pembangunan nasional. (IK)







Tabel 1. Produksi Minyak Nabati sejak 2003/2004 dengan prediksi 2006/2007.

Million Metric Tons (MMT)

Deskripsi 2003/04 04/05 05/06 06/07 Kenaikan
Total Dunia 130.3 138.4 145.8 152.9 22.6
Soybean 30.9 32.9 34.8 36.6 5.7
Palm 29.9 33.3 35.2 37.6 7.7
Canola 14.4 15.7 17.7 18.6 4.4
Sunflower 9.6 9.4 10.5 10.8 1.2
Cottonseed 4.2 5.0 4.9 5.0 0.8
Groundnut 4.8 4.5 4.6 4.5 -0.3
Corn 2.0 2.1 2.2 2.3 0.3
Olive 3.2 3.0 2.7 3.1 -0.1
Palmkernel 3.5 3.9 4.1 4.3 0.8
Coconut 3.1 3.2 3.3 3.3 0.2
Butter 6.4 6.6 6.8 7.0 0.6
Lard 7.3 7.5 7.7 7.9 0.6
Tallow 8.1 8.3 8.4 8.5 0.4

Komoditi lain seperti : Fish oil (~1.0 MMT), Sesame (~0.8 MMT), linseed (~0.7 MMT) dan Castor (~0.5 MMT)

Source : Oil World Annual 2006.

Thursday, January 25, 2007

BioFuel Conference. January 30-31, 2007

Tuesday, December 12, 2006

Krisis Gas Dan Listrik Industri

Berbeda jarak dengan Jawa Timur yang terkena krisis lumpur lapindo, tepatnya di daerah Sumatera Utara yang berada di pulau Sumatera, juga telah terjadi krisis serupa tapi tak sama. Krisis Gas dan Listrik telah melanda industri yang notabene merupakan salah satu tiang pembangunan. Sementara di pulau Kalimantan, kota Pontianak dan kabupaten Barito utara juga mengalami krisis listrik yang berkepanjangan.

Keadaan ini menimbulkan perspektif krisis yang sama. Harapan banyak pihak kepada pemerintah pusat untuk segera mengambil tindakan penyelesaian karena pemerintah pusat sebagai pihak yang memiliki otoritas dan wewenang sebagai penyelenggara negara.

Krisis gas dan listrik yang menjadi fenomena dewasa ini, bukanlah sesuatu yang baik melainkan kejadian serius yang memerlukan pemikiran dan penyelesaian yang bijaksana dari pihak yang berwenang.

Krisis gas yang disebabkan kurangnya tekanan pasokan gas disinyalir sebagai akibat tidak cukup tersedianya gas untuk digunakan. Belum lagi permasalahan kebocoran gas yang sering kali terjadi sehingga membuat kerugian PT. PGN terus meningkat.

Sedangkan krisis Listrik yang terjadi, disinyalir karena keterbatasan mesin pembangkit, terhambatnya suplai bahan bakar mesin pembangkit serta terbatasnya anggaran untuk membeli solar, ditambah kebocoran listrik yang juga sering terjadi sehingga membuat kerugian PT. PLN semakin bertambah.

Penyebab krisis gas dan listrik ini bisa jadi menjadi krisis nasional yang akan meluluh lantahkan industri nasional. Di tengah-tengah gencarnya promosi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai negara pilihan investasi, ini menjadi sesuatu yang tidak kondusif bahkan cenderung menghancurkan.

Semua pihak yang terkait krisis ini, diharapkan segera duduk bersama dalam waktu dekat guna mencari penyelesaian yang elegant sehingga dapat mengatasi kebuntuan krisis gas dan listrik ini. Dalam waktu yang tidak terlalu lama lagi, masalah krisis ini dapat segera diselesaikan dengan bantuan semua pihak. Saling berpegangan-tangan dan bahu membahu membangun Indonesia menjadi sejahtera. Semoga.

Sawit Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat

Masih ada waktu ... untuk melakukan sebuah perubahan, kerap menghampiri benak kita tatkala kehidupan semakin berat dirasakan. Optimisme sebuah kata yang sarat akan makna, menjadi sebuah semangat untuk terus melakukan tugas dan karya bagi kelangsungan hidup di dunia ini.

Industri oleochemical merupakan jenis industri yang dikenal sebagai intermediate industri sawit, perkembangan industri dari hulu ke hilir ini, menjadi semakin besar manakala sawit juga sangat berpotensial sebagai bahan baku produk kesehatan dan biofuel, yang memang sangat dibutuhkan dewasa ini.

Prospektif kinerja industri oleochemical menjadi semakin bertambah, menyusul meningginya permintaan biofuel sebagai energi alternatif yang berasal dari sawit. Semakin meninggi permintaaan akan produk ini, tentu saja mempengaruhi suplai dan demand yang terjadi. Ini merupakan sebuah babak baru, dimana pengusaha industri oleochemical menjadi sebuah kekuatan untuk melakukan perubahan.

Sebagai renewable resources, sawit menjadi industri yang semakin berkembang. Perkembangan yang sudah dimulai beberapa waktu lalu terjadi dari hulu hingga hilirnya. Industri hulu semakin meningkat, dengan bertambahnya areal perkebunan khusus sawit dan berdampak positif terhadap peningkatan produksi CPO di tanah air. Bahkan beberapa media mencatat pertumbuhan produksi CPO saat ini, sudah melampaui Malaysia sebagai produsen CPO terbesar di dunia.

Produksi CPO menurut data Komisi Minyak Sawit (KMSI) areal perkebunan sawit pada 2005 telah mencapai sekitar 5,25 juta hektar dengan produksi nasional CPO mencapai 14,7 juta ton. Produksi ini mengalami kenaikan sebesar 8,5% dibanding tahun sebelumnya sebesar 13,6 juta ton. Apabila dibandingkan dengan negara tetangga, Malaysia yang telah mampu memproduksi 15 juta ton pada tahun yang sama.

Prediksi CPO Indonesia, tahun ini akan meningkat sebesar 10% yang berarti akan meningkat menjadi sekitar 16 juta ton di 2006. Menurut data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) seperti yang dilansir Business News, 27 Juli 2006, ekspor CPO pada 2006 diprediksi akan naik 9,4% menjadi 10,5 juta ton senilai USD 4,21 miliar dari 9,6 juta ton tahun lalu dengan nilai USD 3,92 miliar. Ekspor yang didominasi China dan India lebih dari 60%, diperkirakan juga akan ikut meningkat.

Menurut laporan Oil world, produksi CPO dunia akan meningkat 7% atau mencapai 36 juta ton dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 33,6 juta ton. Malaysia dan Indonesia merupakan produsen CPO dunia dengan menguasai lebih dari 85% produksi CPO dunia saat ini.

Industri hilir juga mengalami kejadian serupa, munculnya pabrik-pabrik baru merupakan imbas akibat permintaan dunia akan biofuel yang terus bertambah. Tahun 2006, hampir seluruh perkebunan besar di Indonesia memanfaatkan peluang ini dengan mendirikan pabrik biodiesel baru sebagai dampak positif permintaan dunia akan produk ini. Dengan kebutuhan dunia sebesar 1 miyar ton per tahun akan bahan bakar solar petroleum, maka apabila disubtitusi sebesar 5% untuk biodiesel maka akan membuka peluang pasar yang sangat besar.

Untuk menjawab tantangan tersebut diatas, maka dunia usaha harus bergandengan tangan dengan pemerintah pusat maupun daerah, bersinergi membangun industri sawit masa depan. Di samping memberikan profitabilitas yang tinggi dan berkesinambungan bagi para pelaku bisnis, kebun sawit juga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Semoga. (IK)

Oil&Fat : Supply & Demand 2020

Pemenang award 2006, Frank D. Gunstone, Profesor Kimia dari Universitas St. Andrews, Skotlandia. Beliau mendapatkan penghargaan The Stephen C. Chang yang merupakan sebuah penghargaan untuk ilmuwan, technologist atau engineer yang melakukan penelitian ataupun pemikiran yang berarti bagi pengembangan oil&fat.
Mempresentasikan ceramah ilmiahnya pada acara 2006 AOCS Annual meeting & Expo yang diselenggarakan di St. Louis, Missouri, USA pada 30 April – 3 May 2006. Berikut orasi ilmiahnya yang diberi judul Will Oil and fat supply meet oil and fat demand in 2020?

Oil&fat pada umumnya memiliki 3 kegunaan, pertama sebagai minyak makanan, kedua sebagai bahan baku industri oleochemical, dan ketiga digolongkan sebagai feed&waste. Dalam 20 tahun terakhir, distribusi antara 3 kegunaan ini dibandingkan dengan rasio 80:14:6, namun kini rasio tersebut telah berubah, sebagai akibat dari permintaan untuk biodiesel. (lihat tabel 1)

Meningkatnya suplai sebesar 55 juta metric tons (MMT) dalam 15 tahun terakhir, merepresentasikan peningkatan rata-rata 3.7 MMT pertahun, dengan nilai peningkatan terkecil 1.0 MMT dan nilai terbesar 7.6 MMT. Peningkatan ini secara alami menimbulkan berbagai kekhawatiran. Ketika peningkatannya kecil, kekhawatiran ada pada konsumen, karena hal ini akan membawa pada kenaikan harga, sedangkan jika peningkatannya besar, suplier khawatir, karena harga akan turun.

Meningkatnya permintaan untuk minyak makanan.
Gambaran di tabel 2 menunjukkan nilai dunia untuk oil&fat yang dikonsumsi untuk minyak makanan selama tahun 1990 dan 2005, termasuk juga konsumsi per orang. Dalam 15 tahun terakhir, konsumsi oil&fat dunia yang digunakan untuk minyak makanan meningkat 44 MMT (69%) dan konsumsi per orang meningkat 37%.

Ada 2 prediksi untuk tahun 2020 yang dapat dilihat berdasarkan perkembangan selama 15 tahun terakhir ini, yaitu pertama, peningkatan produksi sebesar 44 MMT (41%) menjadi total 152 MMT, atau kedua, peningkatan produksi sebesar 74 MMT (69%) menjadi total 182 MMT. Kedua prediksi ini menciptakan konsumsi rata-rata perorang ke level 20.1 dan 24.0 kg/tahun dengan syarat jumlah populasi pada tahun 2020 seperti yang diharapkan. Pertanyaan yang timbul kemudian adalah, akankah ada permintaan untuk penggunaan minyak makanan dari kenaikan sebesar 44-74 MMT ini di tahun 2020?

Karena tidak mungkin dapat memisahkan penggunaan untuk makanan dan non makanan pada tiap negara, gambaran di paragraf ini dan pada tabel 3 adalah gambaran untuk semua penggunaan. Tiga kolom pertama di tabel 3 menunjukkan konsumsi rata-rata di EU-25 (Uni Eropa-25 anggota) dan Amerika Serikat pada tingkat yang hampir 2.5 kali lipat dari rata-rata dunia. Kedua negara tersebut memiliki industri oleochemical yang kuat, sehingga penggunaan untuk makanan lebih sedikit dibanding rata-rata konsumsi dunia yang mencapai 80%. New Zealand digambarkan sebagai negara berkembang dengan aktivitas agrikultur yang kuat, namun hanya sedikit atau mungkin tidak memiliki industri oleochemical sama sekali. Tiga kolom kedua, mencakup semua negara dengan populasi melebihi 100 juta orang. Pada beberapa negara tersebut, konsumsi perkapita-nya hampir sama dengan rata-rata dunia, kecuali di India, Bangladesh, dan Nigeria, yang berada di bawah nilai rata-rata. Nigeria dianggap dapat mewakili negara-negara lain di Afrika, yang memiliki populasi total 887 juta orang. Gambaran ini menunjukkan pertumbuhan permintaan fats untuk minyak makanan.

Angka perkiraan/prediksi permintaan untuk semua penggunaan di China sudah terbukti terlalu rendah. Publikasi yang dikeluarkan oleh Oil World pada tahun 2001, memprediksi total konsumsi di China pada 2003 akan mencapai sebesar 20.5 MMT dan meningkat menjadi 24.8 MMT pada 2008. Pada kenyataannya, konsumsi di China pada 2003 sebesar 22.3 MMT dan 2005 naik menjadi 25.5 MMT. Angka ini jelas melebihi prediksi sebelumnya. Belum dapat dikatakan apakah China akan terus melebihi angka prediksi yang dibuat atau bahkan prediksi untuk konsumsi tahun 2018 sebesar 32.9 MMT akan lebih cepat terwujud.

Meningkatnya permintaan untuk non makanan
Jika dilihat dari efeknya terhadap lingkungan, maka oleochemical lebih memiliki keuntungan dibanding petrochemical karena lebih ramah lingkungan. Hal ini yang digunakan sebagai alasan untuk lebih mengembangkan industri oleochemical, namun harus diingat bahwa industri petrochemical saat ini 30 kali lebih besar dibanding industri oleochemical. Oleochemical memiliki masa depan yang cerah, namun butuh waktu yang lama. Jika mungkin, mereka dapat melebihi suplay dan demand untuk petrochemical. Saat ini, meningkatnya industri oleochemical merupakan kontribusi dari industri biodiesel (banyaknya permintaan untuk industri biodiesel). Hal ini sudah terbukti di Eropa, dan terus berkembang di Amerika dan di banyak negara lain di dunia. Bahkan fatty oil digunakan untuk memproduksi electricity (listrik). Sudah diperhitungkan bahwa pada tahun 2020, sebanyak 40-50 MMT biodiesel akan diproduksi dan dikonsumsi di Eropa (20 MMT), Amerika Serikat (12 MMT), serta di negara maju dan negara berkembang lainnya.
Dalam hal ini, cukup beralasan untuk mengutip Martin Reaney dan kolega lainnya dari Agriculture dan Agri-food Canada di Saskatoon, Saskatchewan, Canada, yang menulis di edisi ke 6 (2005) Bailey’s Industrial Oils and Fat Products: “Jika trend saat ini terus berlanjut, biodiesel akan tumbuh menjadi pasar terbesar untuk triglyceride oil, berkembang melebihi pasar untuk makanan (food), feed, dan produk-produk industri (industrial products) yang ada saat ini.” James Fry dari LMC International yang bermarkas di Inggris juga melaporkan bahwa permintaan untuk tujuan non edible akan melebihi permintaan untuk edible dimulai sejak tahun 2050 kedepan, pada waktu dimana populasi dunia sudah stabil.

Prediksi suplai oil&fats di 2020.
Prediksi suplai pada tahun 2020 tergambar di tabel 4. Prediksi ini dibuat berdasarkan pada tingkat produksi tahun 2005 sebesar 135 MMT, dan angka yang dipilih dari peningkatan pertahun selama 15 tahun mendatang, yakni antara 3.0 dan 4.0%. Dari prediksi tersebut, maka nilai peningkatan rata-rata pertahun, selama 15 tahun mendatang (sejak 2005) adalah 3.6%. Meningkatnya suplai yang ada di tabel 4 (77-111 MMT), dibandingkan dengan peningkatan pada permintaan sebesar 84-124 MMT, seperti yang sudah dibahas di tabel 2 (untuk makanan) dan dibahas pada teks (untuk biodiesel). Perubahan pada permintaan di tingkat ini, akan mengakibatkan revisi pada rasio 80:14:6, menjadi sekitar 68:26:6 untuk tahun 2020. Sayangnya, tidak ada tempat di sini untuk membahas lebih lanjut faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tingkat suplai tersebut, namun yang pasti termasuk di dalamnya adalah faktor ketersediaan lahan, campuran sumber oil berkualitas tinggi dengan yang rendah, meningkatnya program-program yang mendukung, dan (di masa yang akan datang) perubahan iklim.

Jadi apa kesimpulannya? Pada tahun 2020, suplai untuk oil dan fat seharusnya naik 77-111 MMT untuk dapat memenuhi meningkatnya permintaan sebesar 84-124 MMT. Namun juga harus diingat bahwa ini merupakan gambaran global, mungkin ada ketidak-seimbangan di negara tertentu. Dari hal ini dapat dilihat bahwa kecenderungan naiknya harga seperti yang sudah nampak saat ini, akan terus berlanjut.
Satu tambahan terakhir. Sampai kapan kita membutuhkan biodiesel? Apakah akan ada sumber lain untuk biofuel? Suatu hari nanti mungkin kita akan memiliki ekonomi hydrogen, namun masih belum mungkin untuk dikembangkan dalam 15 tahun mendatang.

(Diterjemahkan bebas & ditulis : FS)








Tabel 1.
Suplai dan penggunaan oil dan fat tahun 1990 dan 2005 (MMT) didasarkan pada gambaran 13 vegetable oil dan 4 animal fat (diadaptasi dari Oil World Annual 2005 dan menggunakan rasio 80:14:6)
Tahun Suplai Makanan Oleochemical Feed&Waste
1990 80 64 11 5
2005 135 108 19 8


Tabel 2.
Penggunaan oil dan fat untuk makanan tahun 1990 dan 2005 dengan dua prediksi untuk tahun 2020.
Tahun Konsumsi untuk Peningkatan Populasi Perkapita
Minyak Makanan MMT % (kg/Tahun)
1990 64 - - 5.25 12.2
2005 108 44 69 6.45 16.7
2020a 152 44 41 7.58 20.1
2020b 182 74 69 7.58 24.0


Tabel 3.
Penggunaan oil dan fat perkapita (kg/tahun) untuk semua tujuan penggunaan di beberapa negara pilihan tahun 2005 (rata-rata dunia adalah 21.0 MMT untuk 6,454 juta orang)

Negara Populasi Kg
(Juta)
EU-25 456 50.8
USA 300 49.0
New Zealand 4 38.2
China 1,299 19.6
India 1,097 11.7
Indonesia 225 18.2
Brazil 184 25.1
Pakistan 161 19.4
Bangladesh 152 7.5
Russia 141 22.2
Nigeria 130 13.0
Mexico 106 25.9

Tabel 4.
Prediksi produksi 17 komoditas oil dan fat tahun 2020 berdasarkan atas produksi tahun 2005 (135 MMT) dan angka rata-rata tahunan yang di pilih yakni antara 3 dan 4%

% Peningkatan Produksi Produksi perorang Peningkatan
per tahun (MMT) (kg/tahun) Produksi (MMT)
3.0 212 28 77
3.3 222 29 87
3.6 232 31 97
4.0 246 32 111

Plant Baru Dan Ekspansi di Industri Oil&Fats 2006

Industri Oil&Fats terus mengalami peningkatan yang significant, perubahan mendasar di industri ini sebagai kepercayaan dunia akan base resources industry yang semakin di butuhkan, akibat berkurangnya pasokan oil berbasis petrokimia. Pilihan bahan bakar nabati yang ramah lingkungan dan penggunaan produk kosmetik, sabun dan detegent berbasis nabati juga menjadi trend pilihan hidup manusia dewasa ini.

Semakin meningkatnya industri ini, sejalan dengan produksi produk yang berbasis nabati. Trend ini akan menjadi kekuatan baru untuk menjaga keselamatan dan kelesetarian bumi sebagai planet di antara planet lainnya di angkasa raya.

Berikut ini hasil pengamatan redaksi APOLIN News mengenai perkembangan industri oil&fats di dunia termasuk Indonesia, berdasarkan data yang di miliki APOLIN selama tahun 2006.


1. Spanyol:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Huelva, Spanyol
- Kapasitas : 200.000 ton / tahun
- Selesai dibangun : Akhir 2007
- Owner : Cia Espanola de Petroles (CEPSA)
- Konstruksi oleh : Bio Oils
- Investasi : € 40 juta
(AP. News-24, Juli ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Spanyol
- Kapasitas : 300.000 ton / tahun
- Mulai operasi : Januari 2008
- Owner : Bionor Transformacion
- Investasi : € 55 juta (US$ 68,8 juta)
- Jumlah tenaga kerja : 55 orang
(AP. News-27, Oktober ‘06)

2. Cina:
· Pembangunan pabrik oleochemical:
- Lokasi : Shanghai, Cina
- Kapasitas produksi : Fatty acid 120.000 ton / tahun
Fatty alcohol 100.000 ton / tahun
- Owner : Teck Guan (Malaysia)
- Teknologi : Lurgi AG (Jerman)
(AP. News-24, Juli ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Weihai City, bagian timur Shandong, Cina
- Kapasitas produksi : 250.000 MTPA
- Owner : Biolux International (Austria)
- Selesai dibangun : Pertengahan 2006
- Feedstock : Rapeseed oil
- Perkiraan pendapatan : US$ 246,6 juta / tahun
Semua produksi akan diekspor ke EU-25
(AP. News-23, Juni ‘06)

· Pembangunan pemroses rapeseed oil:
- Lokasi : Weihai City, bagian timur Shandong, Cina
- Kapasitas produksi : 270.000 MTPA
- Owner : Biolux International (Austria) - Joint Venture
- Jumlah investasi : US$ 50,58 juta
(AP. News-24, Juli ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Hainan Island
- Owner : China National Offshore Oil Co (CNOOC)
- Tehnologi : Biosweet (Malaysia)
- Feedstock : Palm oil
- Kapasitas produksi : 120.000 ton / tahun
(OFI, November ’06 Vol.22)

3. Indonesia:
· Upgrade refinery palm oil:
- Lokasi : Indonesia
- Owner : Lembaga Tabung Haji Plantation Bhd
- Mulai operasi : Akhir 2006
- Kapasitas produksi : 1.500 ton / hari
- Jumlah investasi : RM 68 juta ($ 15 juta)
(AP. News-24, Juli ’06)

· Pembangunan 2 pabrik palm oil:
- Lokasi : Ketapang dan Sanggau, Kalimantan Barat, Indonesia
- Owner : Kerjasama Indonesia & Malaysia
- Total investasi : RM 30 juta ($ 8 juta)
(AP. News-22, Mei ’06)

· Pembangunan terminal minyak untuk produk palm oil:
- Lokasi : Kalimantan Barat, Indonesia
- Owner : Halifax Capital
- Total investasi : US$ 80 juta
Pada tahap pertama akan dibangun pelabuhan dan fasilitas penyimpanan CPO yang akan dimulai akhir tahun 2006 dengan biaya US$ 8 juta, tahap kedua dibangun fertiliser & pabrik cracking kernel juga pabrik biodiesel.
(OFI, November ’06 Vol.22)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Sumatera, Indonesia
- Owner : Wilmar Holdings
- Kapasitas produksi : 250.000 ton / tahun
- Mulai operasi : Kuartal pertama 2007
(OFI, November ’06 Vol.22)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Indonesia
- Owner : PT. Astra Agro Lestari
- Kapasitas produksi : 150.000 ton / tahun
- Feedstock : Palm oil atau castor oil
- Estimasi biaya : US$ 16 juta
(AP. News-26, September ’06)

4. Perancis:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Venette, Perancis
- Kapasitas produksi : 100.000 ton / tahun
- Owner : Technip (Perancis)
- Mulai operasi : Kuartal ketiga tahun 2006
- Feedstock : Rapeseed & sunflower oil
Menggunakan Axens process.
(AP. News-23, Juni ‘06)

5. Thailand:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Map Ta Phut, Rayong, Thailand
- Senilai : US$ 150 juta
- Kapasitas produksi : 300.000 liter / hari
- Owner : Group Thai-Canadian
- Mulai dibangun : Januari 2006
- Mulai operasi : 2007
Fishery Group menyatakan akan membeli 10 juta liter biodiesel per bulan dari pabrik ini.
(AP. News-22, Mei ‘06)

· Pembangunan pabrik fatty alcohol:
- Lokasi : Rayong, Thailand
- Senilai : US$ 150 juta
- Kapasitas produksi : 100.000 ton / tahun
- Owner : Cognis Thai Ltd. & Thai Oleochemicals Company
Ltd. (JV 50:50) dengan nama Thai Fatty Alcohols
Company Ltd.
- ehnologi : Cognis
- Mulai operasi : Awal 2008
Akan menjadi perusahaan pertama di Thailand yang memproduksi fatty alcohol yang di refine.
(AP. News-26, September ‘06)

6. Malaysia:
· Pembangunan pabrik methyl ester:
- Lokasi : Pasir Gudang, Malaysia
- Kapasitas : 200.000 MT / tahun
- Investasi : US$ 41,6 juta (untuk 2 pabrik salah satunya di
Singapura)
- Owner : Kulim Group & Peter Cremer – Joint Venture
- Mulai operasi : 2007
Hasilnya untuk produksi biodiesel & chemical derivative lainnya untuk diekspor terutama ke EU-25.
(AP. News-22, Mei ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Pasir Gudang, Malaysia
- Kapasitas produksi : 120.000 ton / tahun
- Owner : Carotino (JC Chang Group)
- Tehnologi : MPOB (Malaysian Palm Oil Board)
- Mulai operasi : Juli 2006
(OFI, November ’06 Vol.22)

· Pembangunan 3 pabrik biodiesel:
- Lokasi : Malaysia
- Kapasitas produksi : Masing-masing 60.000 ton / tahun
- Owner : MPOB (Malaysian Palm Oil Board)
- Total dana : RM 60 juta (US$ 16 juta)
- Selesai dibangun : Akhir tahun 2006
(AP. News-20, Maret ‘06)


7. Singapura:
· Pembangunan pabrik methyl ester:
- Lokasi : Jurong Island, Singapura
- Kapasitas : 200.000 MT / tahun
- Investasi : US$ 41,6 juta (untuk 2 pabrik salah satunya di
Malaysia)
- Owner : Kulim Group & Peter Cremer – Joint Venture
- Mulai operasi : 2007
Hasilnya untuk produksi biodiesel & chemical derivative lainnya untuk diekspor terutama ke EU-25.
(AP. News-22, Mei ‘06)

8. Belgia:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Belgia
- Kapasitas produksi : 100.000 ton / tahun
- Owner : Oleon (Belgia)
(OFI, November ’06 Vol.22)

9. Brazil:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Rondopolis, Mato Grosso
- Kapasitas produksi : 180.000 ton / tahun
- Owner : ADM
- Mulai operasi : Pertengahan 2007
(OFI, November ’06 Vol.22)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Brazil
- Owner : Caramuru Alimentos Ltda.
- Kapasitas produksi : 100.000 ton / tahun
Caramuru Alimentos Ltda. mendapat pinjaman dari Brazilian Development Bank sebesar R$ 42,8 juta (US$ 19,7 juta) untuk pembangunan pabrik ini.
(Inform, October ’06 Vol.17)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Lucas do Rio Verde, Brazil
- Owner : Fiagril Agromercantil Ltda.
- Feedstock : 70% soybean, sisanya dari animal tallow
- Investasi : US$ 14,5 juta
- Mulai dibangun : September 2006
- Selesai dibangun : April 2007
Pada tahap pertama akan memproduksi 50 juta liter biodiesel per tahun, dan tahap kedua akan berlipat ganda menjadi 100 hingga 120 juta liter per tahun.
(Inform, October ’06 Vol.17)


10. USA:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Iowa, USA
- Owner : Cargill, Inc.
- Kapasitas : 37,5 juta galon / tahun
- Mulai operasi : April 2006
(AP. News-23, Juni ‘06)

· Pembangunan glycerine refinery:
- Lokasi : Iowa, USA
- Perkiraan pendapatan : 30 juta pounds / tahun
- Kapasitas produksi : 13.000 ton / tahun
- Owner : Cargill, Inc.
- Mulai operasi : Juni 2006
(AP. News-23, Juni ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Kansas City, USA
- Kapasitas produksi : 40 juta galon / tahun
- Owner : Missouri Soybean Association
- Mulai operasi : Pertengahan 2007
(OFI, November ’06 Vol.22)

· Pembangunan glycerine refinery:
- Lokasi : Kansas City, USA
- Kapasitas produksi : 30 juta pound food grade glycerine
- Owner : Missouri Soybean Association
- Mulai operasi : Pertengahan 2007
(OFI, November ’06 Vol.22)

· Pembangunan pabrik ethanol:
- Lokasi : Hereford Texas, USA
- Kapasitas produksi : 100 juta galon / tahun
- Konstruksi senilai : US$ 120 juta
- Owner : Panda Energy
- Konstruksi oleh : Lurgi PSI
- Selesai dibangun : Desember 2006
(AP. News-20, Maret ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : North Dakota, USA
- Kapasitas produksi : 30 juta galon / tahun
- Feedstock : Canola
- Owner : Dakota Skies Biodiesel
- Total investasi : US$ 75 juta
- Mulai dibangun : Agustus 2006
Selesai dibangun : Akhir musim semi 2007
Fasilitas ini terdiri dari 5 bangunan / gedung dan akan dinamai Magic City Biodiesel LLC
(Inform, October ’06 Vol.17)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Texas, USA
- Owner : Valley Co-op Oil Mill (VALCO)
- Feedstock : Cottonseed
- Mulai operasi : Awal 2007
- Mulai dipasarkan : Maret 2007
Akan menjadi pabrik pertama yang memproduksi biodiesel dari feedstock cottonseed.
(Inform, October ’06 Vol.17)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : USA
- Kapasitas produksi : 100.000 ton / tahun
- Owner : Seaboard Food LP
- Konstruksi oleh : De Smet Ballestra Group
- Feedstock : Animal fat & soybean oil
(AP. News-27, Oktober ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Bangor
- Kapasitas produksi : 40 juta galon / tahun
- Owner : Michigan Biodiesel LLC
- Mulai operasi : Juli 2007
Pabrik ini akan menciptakan 25 lowongan pekerjaan baru.
(AP. News-26, September ‘06)

11. Inggris:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Immingham, Inggris
- Kapasitas produksi : 200.000 ton / tahun
- Feedstock : Rapeseed
- Owner : Greenergy Fuels Ltd.
- Konstruksi oleh : De Smet Ballestra Group
- Selesai dibangun : Akhir 2006
(AP. News-27, Oktober ‘06)

12. Rotterdam:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Vopak Terminal Botlek Noord
- Luas fasilitas : 34.000m2
- Kapasitas produksi : 400.000 ton biodiesel per tahun
60.000 ton glycerine pharmaceutical per tahun
- Owner : Biopetrol Industries AG
- Mulai beroperasi : Kuartal ke tiga tahun 2007
(AP. News-26, September ‘06)

13. Ukraina:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Ukraina
- Kapasitas produksi : 100.000 ton / tahun
- Feedstock : Soya atau palm oil
- Owner : EOP Biodiesel & Kaskad Production (JV)
- Investasi : US$ 35 juta
- Mulai dibangun : Pertengahan 2006
(AP. News-25, Agustus ‘06)

14. Jerman:
· Ekspansi fasilitas refinery vegetable oil:
- Lokasi : Hamburg, Jerman
- Ekspansi : Refinery palm oil dengan kapasitas 350.000 MT
Tambahan kapasitas penyimpanan 50.000 MT
- Owner : ADM
Menjadikannya sebagai refinery vegetable oil terbesar di Eropa, mencakup refinery rapeseed, soybean, dan palm oil, juga crushing plant soybean dan rapeseed, dengan total kapasitas lebih dari 1 juta MT.
(AP. News-26, September ‘06)

· Pembangunan pabrik biodiesel dan oil mill:
- Lokasi : Pelabuhan Danube, Straubing
- Kapasitas produksi : 200.000 ton / tahun
- Owner : Campa Sud Gmbh & Co
(OFI, September ’06 Vol.21)

Sunday, September 10, 2006

Biofuel = BioDiesel


Biofuel terus menjadi perbincangan hangat hingga saat ini. Naiknya harga crude oil menjadi sinyal kuat bagi dunia usaha untuk melakukan pencarian energi lain khususnya biofuel. Di beberapa negara, biofuel sudah menjadi kebijakan pemerintah dan sudah banyak pelaku usaha yang mengembangkan bisnis ini. Akan tetapi kondisi berbeda didapatkan di Indonesia, biofuel: biodiesel dan bioethanol masih menjadi wacana, baik di tingkat daerah maupun tingkat nasional.

Sabtu, 19 Agustus 2006, bertempat di PT. Sumi Asih Oleochemicals - Bekasi pada pukul 15.00 wib, wacana biofuel telah berubah menjadi kenyataan. Biodiesel berhasil diproduksi di perusahaan yang merupakan salah satu anggota APOLIN ini. Dengan melakukan pelepasan ekspor perdana biodiesel ke Eropa sebesar 500 MT. Ini menjadi bukti bahwa industri Indonesia berhasil bertahan di tengah krisis, bahkan mampu mengembangkan bisnisnya menjadi lebih baik.

”Bukan sekedar basa-basi” demikian slogan yang dibawa sebuah perusahaan rokok tanah air, mungkin menjadi kiasan yang menarik untuk keberhasilan PT. Sumi Asih Oleochemicals. Keberhasilan sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang melakukan ekspor Bahan Bakar Minyak (BBM) biodiesel, merupakan sebuah prestasi yang sangat membanggakan.

Di tengah usianya yang sudah mencapai 61 tahun, bangsa ini memang tidaklah lepas dari carut marut kehidupan dunia. Keberhasilan ekspor BBM biodiesel ini merupakan hadiah terindah yang diberikan kepada bangsa yang saat ini menjadi nett importir crude oil.

BBM Biodiesel yang berasal dari minyak sawit, memang sebuah alternatif dari banyaknya pilihan sumber nabati. Akan tetapi banyaknya pilihan bukanlah berarti bahwa tidak ada keberpihakan sama sekali dari pemerintah untuk mendukung usaha biofuel ini. Keinginan pemerintah untuk mencari alternatif energy saat ini, cenderung hanya pada tataran wacana. Padahal industri ini sebenarnya sudah ada dan siap beroperasi di Indonesia, hanya saja saat ini sebagian besar masih dalam kondisi wait and see.

Yang dibutuhkan dunia usaha saat ini adalah keberpihakan pemerintah pada industri ini. Industri yang disebut Rini M. Suwandi sewaktu menjabat menteri perindustrian dan perdagangan era Megawati sebagai Base Resources Industry. Memang merupakan sebuah pilihan tepat, untuk membangun negara ini keluar dari krisis energy dengan membangun industri yang base resources dan renewable. Keberpihakan pemerintah, regulasi dan insentif yang tepat bagi industri ini, akan menjadikannya tumbuh dan berkembang di masa depan. (IK)

Wednesday, July 26, 2006

Perkembangan Industri Oleochemical Dunia

Pesatnya perkembangan industri oleochemical semakin menyadarkan manusia betapa pentingnya bersahabat dengan alam. Industri yang ramah lingkungan ini sangat disukai karena tidak menghasilkan limbah yang berbahaya bagi lingkungan bahkan produk yang dihasilkan sangat aman untuk digunakan oleh manusia.
Isue yang terus berkembang hingga saat ini menyangkut aplikasi penggunaannya sebagai alternatif bahan bakar dan surfactant yang tentu saja memberi keuntungan bagi manusia.
Dunia seakan tersadar bahwa lingkungan harus dijaga keseimbangannya oleh manusia, sehingga dewasa ini industri oleochemical mengalami peningkatan yang cukup tajam.
Pertumbuhan ini memang masih di dominasi oleh Malaysia sebagai penghasil CPO terbesar, akan tetapi negara lain juga sudah mulai melirik bahkan cenderung berani investasi untuk jangka waktu yang panjang seperti Thailand dan India. Bahan baku industri oleochemical bukan saja minyak sawit tetapi juga minyak tumbuhan lain yang juga memiliki keistimewaan tersendiri.
Berikut ini hasil pengamatan redaksi APOLIN News mengenai perkembangan industri oleochemical di dunia berdasarkan data yang di miliki APOLIN selama tahun 2004.


1. India:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Bangalore, Karnatakan State, India
- Kapasitas : 1 MT inedible oilseeds
- Produksi : 300 liter minyak
- Owner : J.S.S. Academy of Technical Education
- Total biaya produksi : RS 18 ($0.42) / liter

2. Iowa:
· Pembangunan pabrik biodiesel dan penyulingan glycerin:
- Lokasi : Iowa
- Kapasitas produksi : 37.5 juta gallon / tahun
- Owner : Cargill
- Mulai operasi : April 2006
- Mampu menyuling : 30 juta pounds glycerin
- Memenuhi persyaratan ISO 9000

3. Malaysia:
· Pembangunan kilang palm oil:
- Lokasi : Kuching, Serawak
- Owner : Assar Senari
- Mulai operasi : Oktober 2006
- Estimasi biaya : RM 300 juta ($80 juta)
- Partners : Cargill dan Serawak Land Consolidation &
Rehabilitation Authority (SALCRA)

· Pembangunan pabrik fatty alcohol:
- Lokasi : Selangor, Malaysia
- Kapasitas : 60.000 ton / tahun
- Owner : Cognis Malaysia
- Mulai operasi : sebelum 2006

· Pembangunan kilang glycerin:
- Lokasi : Kuantan
- Kapasitas produksi : 35,000 ton / tahun
- Owner : Procter & Gambler Chemicals
- Dioperasikan oleh : FPG Oleochemicals

· Pembangunan pabrik crushing palm kernel:
- Lokasi : Bintulu, Serawak
- Biaya : RM 16.7 juta ($4.4 juta)
- Owner : Golden Hope

· Pembangunan pabrik pengolahan methyl ester untuk produksi biodiesel:
- Lokasi : Labu, Negeri Sembilan
- Kapasitas : 60,000 MT / tahun
- Bahan baku : Minyak sawit mentah
- Jumlah Investasi : RM40 juta ($10.5 juta)
- Investor : Malaysian Palm Oil Board (MPOB)
- Selesai dibangun : akhir 2006
- Tujuan ekspor : Eropa dan Turki

· Pembangunan Biotechnology Centre:
- Lokasi : Banting, Selangor
- Kapasitas produksi : 100,000 ramets
- Owner : Malaysia’s Golden Hope Plantations Bhd
- Total wilayah replanting: 10,000 hektar (24,700 persegi)

· Pembangunan kilang (refinery) CPO:
- Lokasi : Rotterdam, Belanda
- Kapasitas : 1.8 juta MT
- Tujuan pasar : Eropa
- Owner : Perusahaan minyak kelapa sawit Malaysia
- Pemerintah Malaysia memberikan pembebasan pajak export CPO ke refinery ini


4. Filipina:
· Pembangunan pabrik biodiesel:
- Lokasi : Eastwood, Libis, Quezon City
- Kapasitas : 60,000 MT / tahun
- Total cost : P650 juta ($11.7 juta)
- Owner : Philippine Chemrez Inc.
- Selesai dibangun : Kuartal pertama 2006

· Pembangunan pabrik fatty alcohol:
- Lokasi : Filipina
- Kapasitas : 100.000 ton / tahun
- Investasi : US$ 98 M
- Owner : Kao Corporation melalui anak perusahaan Lion
- Selesai dibangun : Musim panas 2006



5. Lithuania:
· Pembangunan pabrik methyl ester:
- Lokasi : Zona ekonomi bebas Klaipeda
- Kapasitas : 115.000 ton / tahun
- Owner : Linas Ir Viza
- Mulai operasi : awal 2006

6. Thailand:
· Pembangunan pabrik fatty alcohol ethoxylates:
- Lokasi : Rayong, Tenggara Bangkok, Thailand
- Investasi : USD 20M
- Owner : Cognis & Thai Olefins (50:50)
- Mulai operasi : Oktober 2006
7. China:
· Pembangunan pabrik minyak pelumas sintetik Polyol ester
- Lokasi : Jinshan City, dekat Shanghai, China
- Owner : Cognis

· Pembangunan pabrik pemrosesan kacang kedelai:
- Lokasi : Nantong, Jiangsu, sebelah timur China
- Owner : Cargill

8. Indonesia:
· Pembangunan pabrik fatty alcohol:
- Kapasitas : 100.000 M Ton
- Owner : Musim Mas
- Mulai dibangun : pertengahan 2005 – akhir 2006
- Tujuan ekspor : Jepang, Eropa, Amerika, China, Korea, Taiwan

· Pembangunan perkebunan kelapa sawit:
- Lokasi : Kabupaten Malinau, Kalimantan Timur
- Luas lahan : 40,000 hektar (102,000 persegi)
- Investasi : $5 juta
- Owner (joint venture) : Lion Forest Industries Bhd,
Pemerintah Kabupaten Malinau
(Regency Government of Malinau, Indonesia-PKM)
- Target produksi biji : 36,000 MT
- Target produksi buah : 720,000 MT / tahun
segar

· Pendirian pabrik minyak sawit:
- Lokasi : Palembang, Sumatera Selatan
- Total cost : RM27 juta ($7.1 juta)
- Kapasitas pabrik : 45 MT / jam
- Selesai dibangun : Oktober 2004
- Mulai operasi : November 2004
- Owner (joint venture) : Ladang Lekir Sdn Bhd Malaysia,
Perak State Agricultural Development Corporation,
PT Trimitra Sumberbuana Indonesia
- Dioperasikan oleh : PT Pinang Wimas Sejati, Palembang
- Keuntungan resmi milik Malaysia dan Indonesia

9. Rusia:
· Pembangunan pabrik minyak essensial:
- Lokasi : Florentina
- Owner : OGO Grain
- Waktu dibangun : 2004

· Pembangunan kilang biji minyak:
- Lokasi : Russian Baltic daerah Kaliningrad
- Total cost : US$100M
- Owner : Group Sodrugestvo
- Hasil produksi : Minyak kacang kedelai
Minyak tumbuh-tumbuhan

· Pembangunan kilang biji minyak:
- Lokasi : Russian Baltic daerah Kaliningrad
- Total cost : US$ 100M
- Owner : Group Sodrugestvo
- Fungsi kilang : Memproduksi minyak kacang kedelai, minyak
tumbuh-tumbuhan didaerah penyimpanan

10. Brazil:
· Pembangunan empat pabrik biodiesel:
- Lokasi : Satu di Quissama dekat Rio de Janeiro,
Dua di negara bagian selatan Minas Gerais,
Satu di Goias
- Kapasitas produksi : 70 juta liter / tahun
- Owner : Produsen minyak tumbuh-tumbuhan Brazil, Biobras
- Mulai beroperasi : 2006

11. Italy:
· Pembangunan pabrik industri minyak dan lemak:
- Owner : C.M. Bernardini S.r.l.
- Bergerak dibidang : Pencabutan biji,
Kilang minyak,
Modifikasi lemak dan fatty acid,
Produksi glycerine
- Jumlah karyawan : 60 orang

12. Myanmar:
· Pembangunan pabrik penggilingan edible oil:
- Lokasi : Ibukota Yangdon (dahulunya Rangoon)
- Total bantuan OPEC : $5 juta
- Total produksi edible : 250,000 ton / tahun
oil Myanmar

Monday, July 17, 2006

Industri Oleochemical : Meningkat, Suram, atau Kiamat?


Industri oleochemicals akan menghadapi masa yang berat tahun depan, adanya over-capacity akan mempengaruhi produksi fatty alcohol dan fatty acid, serta perdagangan produk sampingan dari glycerine yang berada pada level harga terendah sepanjang masa. Hanya manufaktur dengan struktur biaya dan produk yang tepat, akan mampu bertahan.

Industri oleochemical mengalami tahun yang luar biasa pada 2005. Pada tahun ini industri oleochemical mengalami berbagai gejolak akibat dari biaya energi, iklim yang tidak terduga, meningkatnya konstruksi yang berkelanjutan dalam industri, pertumbuhan biodiesel serta menurunnya harga glycerine yang terus menerus dan tidak ada habisnya.
Pada 2005, rata-rata harga tahunan untuk Crude Palm Oil (CPO) berkisar USD 327 per Ton, bahkan untuk Palm Kernel Oil (PKO) sempat dihargai di bawah USD 526 per Ton. Ini merupakan hal besar yang harus diperhatikan.
Untuk tahun kedua berjalan, kisaran harga antara palm oil dan palm kernel oil adalah USD 150-200 per ton. Apabila 2 tahun yang lalu, para pelaku industri masih berfikir bahwa perbedaan harga tersebut sangat “mengerikan“, ini dikarenakan “seharusnya“ kisaran harga CPO dan PKO hanya berada pada USD 90-100 per Ton. Tetapi kondisi saat ini, untuk kisaran harga yang lebih besar pun sudah terasa normal. Dewasa ini, pertanyaan terbesar untuk pelaku industri oleochemicals adalah; apakah hal tersebut akan tetap demikian, akan kembali ke level lama, atau malah akan bertambah besar?

Energi dan badai
Kebanyakan dari kita masih dapat mengingat badai tragis mematikan yang menghantam Gult Coast, Amerika selama Agustus dan September 2005 lalu. Namun yang kurang diketahui adalah akibat dari peristiwa ini pada industri oleochemicals. Wilayah Louisiana dan Texas di sekitar New Orleans dan Houston adalah pusat industri petrochemical di Amerika Utara, juga merupakan tempat dimana gas off-shore Amerika berada.
New Orleans dan Houston juga merupakan pelabuhan besar yang digunakan untuk pintu masuk impor chemicals. Industri petrochemical di area ini berkembang karena digunakan sebagai bahan dasar gas alami yang murah, dan sumber yang terjangkau untuk energi dan feedstock. Namun bahkan sebelum badai menerjang, wilayah tersebut sudah harus bekerja keras akibat harga gas yang melonjak tinggi bahkan mencapai rekor harga tertinggi.
Badai Katrina, khususnya, mengganggu suplai feedstock ke hampir semua pabrik chemical di sepanjang Gulf Coast dan dalam waktu yang bersamaan mengganggu kegiatan impor akibat terminal tanki-tanki di sepanjang pantai rusak atau terisolasi oleh banjir.
Untuk pengguna oleochemical dan surfactants di Amerika Utara, dampak dari peristiwa ini sangat merugikan, dimana harga melonjak dan terganggunya suplai di pasar fatty alcohol yang sebelumnya memang sudah ketat akan persaingan. Pengguna fatty alcohol, kemudian banyak yang mengurangi pemakaian dan permintaan diperkirakan turun drastis sebanyak 100.000 ton selama 18 bulan kebelakang, sebagai akibat dari kenaikan umum dalam biaya dan efek spesifik dari badai.

Meningkatnya Konstruksi
Sementara itu perkembangan konstruksi di industri oleochemical terus berlanjut dengan cepat.
Fatty alcohol, pada 2005 produsen baru memasuki pasar. VVF memulai natural-based plant di India, dimana merupakan pabrik pertama yang menggunakan tehnologi wax-ester yang dikembangkan oleh Lurgi. Cognis juga memulai ekspansi di Malaysia, jadi pada tahun tersebut dapat terlihat sekitar 180.000 ton kapasitas baru yang akan memasuki pasar.
Namun bukan hanya itu, sekitar 800.000 ton kapasitas baru telah diumumkan dan akan datang mulai 2006 dan 2007.
Jika ditambahkan dengan 100.000 ton kapasitas natural yang sudah ada mulai 2005, maka akan menjadi 900.000 ton, dan jangan lupa 100.000 ton tambahan yang di bawa oleh produsen synthetic di Amerika Utara, maka jadilah 1 juta ton kapasitas baru yang akan datang dalam jangka waktu tiga tahun ini. Ini terjadi dalam pasar yang biasanya di bawah 2 juta ton per tahun dan umumnya tumbuh 30.000 - 50.000 ton per tahun, namun ada kemungkinan menyusut di 2005.

Fatty acids, Industri fatty acids memperlihatkan sebuah ekspansi besar dalam sejarah di 2005, ketika Natural Oleochemicals di Malaysia membawa lebih 200.000 ton kapasitas dalam sekali jalan. Namun peristiwa terbesar di tahun tersebut datang dari Cina, dimana tiga grup Asia Tenggara membuka pabrik baru di Shanghai. Namun kapasitas baru tidak menciptakan demand baru dengan sendirinya, paling tidak dari hal ini, terlihat produksi vegetable-based fatty acids dari Asia telah menggantikan material berbahan dasar tallow dari Eropa dan Amerika Utara, kadang hal ini memang terjadi sebagai suatu straight-replacement, namun sering juga karena pengguna fatty acids pindah ke Asia, dimana palm atau palm stearine merupakan minyak yang jelas-jelas akan mereka gunakan. Efek samping dari hal ini adalah perbedaan harga antara palm olein dan palm stearine.

Biodiesel, akhirnya yang benar-benar membuat para engineer sibuk di 2005 adalah meningkatnya pasar biodiesel. Didukung dengan harga yang menguntungkan, methyl ester untuk biodiesel bisa jadi merupakan produk yang paling menguntungkan di pasar oleochemicals saat ini. Banyaknya aksi nyata atau aksi potensial dari legislatif dan proyek-proyek baru diumumkan hampir setiap minggu sejak pertengahan 2005. Kapasitas Eropa kini naik sampai sekitar 4 juta ton dan dalam jangka waktu 6 bulan kita telah melihat lebih dari 800.000 ton kapasitas yang direncanakan oleh Malaysia dan Singapore.

Ada 2 hal yang mempengaruhi hal ini:
Pertama, lingkungan legislatif yang mendukung. Ada indikasi Serikat Eropa meminta pemasukan 5,75% biofuel pada 2010. Hal ini menyiratkan permintaan sekitar 10 juta ton biodiesel. Panen rapeseed Eropa lebih sedikit dari angka di atas, tentu saja hal ini juga mendukung kebutuhan Eropa akan edible oil. Hal ini akan menyebabkan gap yang lebar untuk produk import dan gap ini yang ingin diisi oleh banyak project-project dari Asia.
Kedua, bisnis ekonomi telah berubah tajam dalam 12 bulan terakhir, sampai-sampai penggunaan biodiesel baru akan sehat secara ekonomi, apabila didukung dengan subsidi dan tax breaks. Pajak untuk bahan bakar di Eropa sangat tinggi, sehingga ada cerita dimana seseorang mengisi bahan bakar diesel untuk Mercedesnya di supermarket bukan di stasiun pengisian bahan bakar (pom bensin). Kenapa hal ini terjadi? Ini disebabkan minyak canola botolan hanya seharga 0.62 per liter di supermarket, sementara harga diesel di pom bensin seharga 1.20 per liter.
Namun sekarang, untuk pertama kalinya memungkinkan untuk membuat ekonomi langsung untuk biodiesel di beberapa pasar.

Glycerine, salah satu dampak langsung dari naiknya produksi biodiesel adalah jatuhnya harga glycerine. Ketika anda membuat 1.000 kg biodiesel ester, anda secara langsung membuat antara 100-150 kg crude glycerine. Produksi biodiesel Eropa sebanyak 3.5 juta ton juga memproduksi sekitar 400.000 ton glycerine di pasar yang dalam sejarah hanya mengkonsumsi di bawah 1 juta ton dan dengan pertumbuhan sebanyak 2-3% per tahun.
Banyaknya jumlah glycerine yang masuk ke pasar ini, terutama di Eropa, mengakibatkan beberapa hal. Bukan hanya pertanyaan harga pasar yang mencapai tingkat terendah dalam sejarah. Seluruh bentuk dari pasar telah berubah. Dimana dulu produsen Asia melihat Eropa sebagai pasar untuk glycerine mereka, namun sekarang Eropa merupakan pasar dengan harga paling rendah di dunia, dan glycerine biodiesel dari Eropa membanjiri seluruh pantai Asia. Harga glycerine yang lebih murah, mungkin sekitar RM15-20 MTPA (USD 4,1 - 5,5 juta per tahun) tidak menguntungkan, seperti ciri khas 120.000 ton pabrik faty acid dalam kurun waktu 4 tahun belakangan.
Sejarahnya, glycerine telah menjadi bagian dari siklus pasar. Saat keadaan sedang tidak baik pengguna dan produsen biasanya tidak bertindak apa-apa, mereka hanya menunggu roda berputar. Namun masa tersebut telah berakhir.
Produsen utama synthetic glycerine yang masih bertahan, Dow Chemical, mengumumkan pada tahun 2005 bahwa mereka berhenti memproduksi glycerine dari epichlorohydrin.
Dalam jangka beberapa bulan, Solvay dari Eropa mengumumkan akan melakukan proyek yang justru sebaliknya – mengubah biodiesel glycerine menjadi epichlorohydrin. Demikianlah bagaimana keadaan dapat berubah dengan cepat. Kiranya, tidak ada perusahaan yang mengharapkan manufaktur glycerine dari petrochemical untuk menjadi proposisi ekonomi pada suatu saat nanti.

Menilik kedepan
Jadi, 2005 adalah tahun yang merebut perhatian kita. Lalu kemana tahun 2006 akan membawa kita, dan apa yang akan terjadi dengan harga minyak?
Pertama, sudah jelas kalau pasar fatty acid alcohol akan menghadapi masa over-capacity. Sangat sulit melihat pasar bisa menyerap 900.000 ton kapasitas ekstra dalam waktu tiga tahun dimana pertumbuhan yang normal hanya sekitar 50.000 ton per tahun. Meskipun bisa, jika ada mukjizat, maka industri telah sukses menemukan pasar baru untuk alcohol sebanyak itu, namun kemudian akan menambah masalah baru untuk menemukan lebih dari satu juta ton suplai ekstra kelapa dan palm kernel oil.
Kedua, sulit melihat pasar glycerine dapat membaik dalam waktu singkat. Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menemukan cara baru penggunaan glycerine, dan harga yang naik (dari beberapa alternative) akan membuat ide-ide ini menjadikan ekonomi terlihat sehat untuk pertama kalinya. Namun dibutuhkan permintaan baru yang sangat besar untuk dapat membuat “lekukan” yang nyata pada over supply yang terjadi. Bagaimanapun, produsen glycerine mencoba melihat hal ini sebagai sebuah kesempatan. Seperti yang terlihat dalam pengumuman glycerine-based epichlorohydrin, sekarang glycerine adalah feedstock dengan harga murah yang dapat digunakan untuk penggunaan lain, yang mungkin tidak diperhatikan beberapa tahun yang lalu.
Akhir 2006, mungkin akan menjadi tahun dimana banyak orang akan lebih mempertimbangkan untuk beralih pada biodiesel. Saat ini, industri mencari keuntungan potensial terbaik dari palm-based biodiesel. Permintaan yang terlihat jauh lebih besar dari kapasitas yang ada, dengan melihat biaya feedstock yang didasarkan pada permintaan edible dan oleochemical dan belum memperhatikan pada penggunaan bahan bakarnya.
Namun bukan kebetulan bahwa harga bahan bakar diesel yang tinggi berhubungan dengan harga minyak rapeseed. Jika podusen palm oil mengisi ruang (baca: gap) antara suplai dan permintaan potensial untuk Eropa, industri harus berharap harga minyak dapat merefleksikan permintaan tersebut. Namun bukan berarti biodiesel akan menjadi investasi yang buruk. Sudah jelas terlihat ada permintaan untuk bahan bakar alternatif, dan produksi palm yang tinggi akan menjadikan palm oil sebagai feedstock yang efisien. Namun bukan berarti hanya membuat pabrik dan menunggu keuntungannya datang sendiri. Sebagaimana pasar yang berkembang, pemenangnya adalah mereka dengan posisi feedstock yang aman, dengan biaya operasi yang rendah dan pemahaman yang baik akan pasar.
Jadi apa harapan kita dari semua ini terhadap harga minyak? Ada sedikit kekhawatiran ekspansi besar di Asia Tenggara akan berdampak pada pasar palm oil. Kita sudah mengenal ini sebagai “biodiesel sentiment“ yang mulai menjadi faktor dalam pergerakkan harga. Permintaan baru untuk minyak akan tetap terbatas di 2006, sehingga diramalkan kenaikkan harga yang rendah, hanya sebesar RM1,550 (US$433) per ton.
Teorinya, gelombang baru untuk kapasitas fatty acid seharusnya membuat harga PKO meroket, jika semua pabrik baru benar-benar memenuhi kapasitasnya. Namun, seperti yang saya bilang, tidak mungkin ada demand yang cukup untuk hal ini. Pasar telah menetapkan harga untuk mengantisipasi kapasitas baru, jadi sementara kita berkendara di jalan yang bergelombang, saya akan lebih konservatif dan meramalkan PKO seharga RM2,150 (US$600)/ton.
Jadi disitulah dimana kita meninggalkan industri oleochemical sementara kita menuju ke 2006; dikelilingi oleh over-capacity, dengan perdagangan produk sampingan (glycerine) dilevel terendah sepanjang masa, bersamaan dengan itu banyaknya industri baru yang tumbuh dan bersaing untuk bahan baku sehingga terus menghasilkan glycerine. Lebih mudah untuk dilukiskan dengan gambar kiamat (doom) dan suram (gloom). Bagaimanapun, industri oleochemical telah lama memiliki hubungan buruk dengan biodiesel, kebanyakan akibat negatif yang disebabkan produk sampingan biodiesel terhadap pasar glycerine. Tetapi jelas terlihat biodiesel kini benar-benar “nyata“ dan untuk pertama kalinya dalam sejarah kita melihat industri mulai melakukan penggunaan baru terbesar untuk oleochemical.
Industri oleochemical telah melalui siklus ini sebelumnya. Akan sulit, namun saat terberat dapat menjamin bahwa pemenangnya adalah manufaktur dengan struktur harga yang tepat dan produk yang tepat. Dalam jangka pendek, perusahaan dengan perlengkapan terbaik untuk menjalankan misi sejarah industri, menambahkan nilai pada minyak agriculture dan memenuhi kebutuhan konsumen dunia. (Penulis : Martin Herrington)